Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Para Ulama Wafat, Tanda Allah Mulai Mencabut Ilmu Ilmu Agama

Sungguh  membuat hati cukup sedih jika mendengar berita wafatnya ulama. Terlebih ulama tersebut adalah ulama ahlus sunnah wal jamaah yang sangat giat, belajar, berdakwah dan memberikan pencerahan yang banyak kepada manusia.

Dengan wafatnya ulama, berarti Allah telah mulai mengangkat ilmu dari manusia. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali
cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan
mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun,
manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka
(orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan
menyesatkan.

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, Sabda Rasulullah Sw ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah
 wafatnya para pemilik ilmu tersebut. 

Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.

Para ulama pasti akan Allah wafatkan karena setiap yang bernyawa
pasti akan merasakan kematian. Hendaknya kita terus semangat mempelajari
 ilmu dan mengamalkannya. Shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata,

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut
diangkat/dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para
periwayatnya/ulama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh
orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat
menginginkan agar Allah membangkitkan mereka dengan kedudukan seperti
kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan
 para ulama. Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan
 sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar .” 

Mari kita semakin semangat menuntut ilmu, menyebarkan dan
mengamalkannya, karena hilangnya ilmu agama merupakan tanda-tanda akhir
zaman dan dekatnya zaman fitnah. 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

   ﻳَﺘَﻘَﺎﺭَﺏُ ﺍﻟﺰَّﻣَﺎﻥُ ﻭَﻳُﻘْﺒَﺾُ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢُ ﻭَﺗَﻈْﻬَﺮُ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦُ ﻭَﻳُﻠْﻘَﻰ ﺍﻟﺸُّﺢُّ ﻭَﻳَﻜْﺜُﺮُ ﺍﻟْﻬَﺮْﺝُ

Zaman saling berdekatan, ilmu dihilangkan, berbagai fitnah
bermunculan, kebakhilan dilemparkan (ke dalam hati), dan pembunuhan
semakin banyak.

Termasuk tanda kiamat yang sudah cukup dekat adalah diangkatnya ilmu dan kebodohan yang merajalela.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳَﺜْﺒُﺖَ ﺍﻟﺠﻬﻞُ

Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan.

Allah Ta’ala berfirman :

ﻧَّﻤَﺎ ﻳَﺨْﺸَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻩِ ﺍﻟْﻌُﻠَﻤَﺎﺀُ ۗ

“Hanyalah yang memiliki khasy-yah (takut) kepada Allah dari kalangan hamba-hamba-Nya adalah para ‘ulama.” (Fathir : 28).

Wafatnya ulama adalah matinya alam semesta. Istilah ini seringkali diucapkan orang-orang untuk menggambarkan betapa gawatnya kepergian seorang ulama. Betapa tidak, lantaran ulama adalah para pewaris nabi.

Melalui lisan merekalah risalah dakwah Rasulullah Muhammad Saw tersebar
hingga kini.

Para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan hanya mewariskan ilmu. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw:

"Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan
mempermudah jalannya ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan
sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan
dimohonkan ampunan oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di
 dasar laut. Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah seperti
keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama
adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham,
mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah
 mengambil bagian yang banyak."
(HR Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan
Ad-Darimi).

Ketika seorang ulama wafat, seolah-olah alam semesta juga mati. Karena para ulama wafat membawa ilmu berupa cahaya yang menerangi hati  manusia. Ilmu itulah yang pada akhirnya mampu membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Dengan ilmu, manusia terjaga dari perilaku jahiliyah. Juga dengan ilmu, alam semesta akan terpelihara dari kerusakan manusia.

Allah Swt tidak mencabut ilmu begitu saja dari pikiran dan hati
seseorang. Kepunahan ilmu justru terjadi karena wafatnya para ulama.
Sebab, ketika wafat, para ulama turut membawa segenap ilmunya.

Bahkan, dalam riwayat lainnya disebutkan Rasulullah Saw bersabda,
"Kematian ulama adalah musibah yang tak tergantikan, sebuah kebocoran
yang tidak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam.
Meninggalnya satu suku lebih mudah bagiku daripada meninggalnya satu
orang ulama."
(HR Al-Baihaqi).

Tak berlebihan jika menganalogikan wafatnya ulama adalah kebocoran
yang tak bisa ditambal. Ketika satu ulama berpulang ke pangkuan Ilahi,
memang akan ada generasi berikutnya yang menjadi pengganti, akan tetapi
tetap saja tidak dalam karakter dan tingkat keilmuan yang setara.

Ketika para ulama menutup usia, manusia tidak hanya bersedih karena
kehilangan sosok mereka. Tetapi juga berduka oleh rasa sesal yang muncul
 karena merasa belum maksimal mereguk ilmu para warasatul anbiya.

Posting Komentar untuk "Para Ulama Wafat, Tanda Allah Mulai Mencabut Ilmu Ilmu Agama"