Kemenag Kota Bekasi Ajak Santri Tingkatkan Budaya Baca Kitab Kuning

TVHaji.net – Untuk meningkatkan budaya baca (literasi) terhadap kitab kuning Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi menggelar kegiatan Literasi Kitab Kuning, Kamis (25/7) di Aula Kankemenag Kota Bekasi. Kegiatan ini diikuti sebanyak 40 peserta dari 20 pesantren di Kota Bekasi dengan menghadirkan 3 narasumber yakni Kasi PD Pontren Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, Wildan Taufik, Ketua forum pondok Pesantren KH Muhammad Aisy dan KH. Zamakhsyari Abdul Majid.

Plt Kepala Kantor Kemenag Kota Bekasi, Ahmad Syaekhu menuturkan, posisi kitab kuning dalam sumber hukum islam selain Alquran dan hadis ada ijmak dan qiyas. Keberadaan Kitab kuning ini tentu untuk menjelaskan lebih dalam hukum-hukum Allah yang belum dijelaskan secara terperinci dalam Alquran dan Hadis. Artinya pendapat para Ulama menjadi hal yang penting dalam memahami dan mempelajari hukum islam.

Dalam kesempatan yang sama, Bendahara Forum Pondok Pesantren, Ismail juga memaparkan tentang kekhasan pondok pesantren, selain sarung juga kitab kuning. Ismail mengatakan kitab Kuning merupakan cirri khas pondok pesantren yang sangat kuat. Apabila ada pondok pesantren yang sama sekali tidak mempelajari kitab kuning, perlu dipertanyakan lagi kenapa bisa tidak mempelajarinya?

Salah satu upaya melestarikan Baca Kitab ini adalah adanya Musabaqoh Baca Kitab atau MQK. Kota Bekasi selalu mengikuti kegiatan ini hingga tingkat provinsi. Sayangnya, tidak semua pondok pesantren kini fokus pada pelajaran kitab kuning. Sebagai contoh di Kota Bekasi yang merupakan daerah perkotaan dan sudah multi meski pelajaran kitab kuning masih ada dan dilestarikan namun standar yang digunakan dalam literasi kitab kuning ini adalah standar kholifiyah dan bukan salafiyah yang memang menjadi standar penilaian pada Musabaqoh Qiroatil Kutub (MQK). Dengan begitu standar MQK tidak bisa kita kejar.

“Di Kota Bekasi Untuk mencari kitab safinatul naja saja sangat sulit untuk memperolah santri yang menguasai itu, meski demikian kita tetap optimis, ditambah lagi ada kegiatan literasi kitab kuning ini yang dapat menambah khasanah keilmuan santri tentunya,” ujar Ismail dalam keterangan tertulisnya.

Sekarang ini, menjadi santri dilarang minder. Pemerintah RI sudah membuktikan perhatiannya kepada keberadaan pesantren salah satunya adanya hari santri nasional dan sekarang ini masih digodok kelahiran Undang-Undang Pesantren.

“ Harus bangga menjadi bagian dari pesantren, mengajar di Pesantren jangan minder,“ ujar Ismail. (kmg/azka).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.