“PTKIN Harus Jaga Pengembangan Islamic Studies”

TVHaji.net — Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mempertahankan tugas utamanya (core business) dalam pengembangan studi keislaman. Hal ini disampaikan Sekjen Kemenag Nur Syam saat berdiskusi dengan civitas akademika dan mahasantri Ma’had Al Jamiah IAIN Malikussaleh Lhoukseumawe.

sekjen kemenag di iain malikussaleh
Sekjen Kemenag Nur Syam di IAIN Malikussaleh (kemenag)

Menurutnya, mengembangkan disiplin ilmu agama Islam menjadi tugas akademik yang harus dijaga PTKIN. “Core business kita adalah pengembangan Islamic Studies. Ini wajib diajarkan karena ini adalah legacy leluhur kita. Di PTKIN ilmu hadits, ilmu tafsir, tasawuf dan lainnya harus jadi unggulan. Sebab itulah keunggulan kita,” terang Nur Syam, Selasa (23/5/2017).

“Jangan ada di antara kita yang mempunyai pemikiran bahwa ilmu keislaman akan ditinggalkan. Menjadi kewajiban kita, agar Islamic Studies tetap eksis,” lanjutnya.

Terkait itu, lanjut Nur Syam, keberadaan Ma’had Al Jamiah di PTKIN memiliki peran strategis dalam ikut memperkuat pengembangan Islamic Studies. Mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini berharap dari Mahad Al Jamiah akan lahir para ahli Quran, Hadits, dan ilmu keislaman lainnya.

Tidak sekedar menjaga, lenjut Nur Syam, PTKIN juga memiliki mandat untuk mengembangkan integrasi ilmu keislaman dengan ilmu lain atau yang disebut dengan Islamic Studies multidisipliner. Nur Syam menilai integrasi penting agar PTKIN bisa mengikuti perkembangan zaman modern.

“Islamic Studies multidisipliner ini diperlukan untuk menjawab tantangan. Gabungkan ilmu sosial kita dengan ilmu keislaman. Ke depan, PTKIN harus terus mengembangkan ilmu sosial profetik, transformatif, dan lainnya. PTKIN harus melahirkan ahli sains yang memiliki fondasi dasar ilmu keislaman kuat.” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Rektor IAIN Lhoukseumawe Hafifuddin menegaskan komitmennya untuk mengembangkan Mahad Al Jamiah. Menurutnya, konsep pesantren bisa menjadi solusi sekaligus jembatan emas menuju Aceh yang madani.

“Kami berusaha keras agar bisa membangun pesantren. Kita lakukan secara bertahap. Tahun lalu dapat 65, tahun ini semoga bisa 140,” katanya.

Keberadaan Mahad Al Jamiah di IAIN Lhoukseumawe disambut baik oleh wali mahasantri. Menurut Direktur Ma’had Jamiah Fakhrurrazi, wali santri merasa kagum karena anaknya sudah fasih berbahasa Arab dan Inggris, meski belum lama berada di pesantren. “Ini tidak terlepas dari usaha kami membuat biat lughawiyah (zona bahasa). Seminggu wajib berbahasa Arab dan seminggu bahasa Inggris,” katanya.

Mahad Al Jamiah baru berjalan satu tahun. Total ada 65 mahasantri yang semuanya adalah perempuan dan sedang menjalani semester dua. Karena keterbatasan lokasi, mereka hanya berada di Mahad Al Jamiah selama setahun karena harus digantikan oleh mahasanti baru lainnya.

“Orang tua berharap agar program ini tidak hanya satu tahun, tapi sampai selesai kuliah. Hanya kapasitas ruang yang ada terbatas sehingga harus bergantian dengan adik tingkatannya,” tandasnya. (kemenag.goid).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.